sekitarkaltim.com – Jalur poros Belayan yang menjadi akses utama penghubung kecamatan-kecamatan di hulu Kutai Kartanegara (Kukar), saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Jalan membentang dari Kecamatan Kota Bangun sampai Kecamatan Kenohan, menjadi urang nadi masyarakat Kecamatan Kembang Janggut hingga Kecamatan Tabang, serta menjadi jalur alternatif menuju Kutai Barat (Kubar), saat ini mengalami kerusakan parah di banyak titik.
Ruas jalan yang merupakan urat nadi ekonomi dan mobilitas warga ini rusak berat pada sejumlah lokasi. Titik-titik kritis dikeluhkan masyarakat, antara lain di perbatasan Desa Sebelimbingan (Kecamatan Kota Bangun) dengan wilayah tiga desa di Kecamatan Kenohan, yakni Desa Semayang, Desa Teluk Muda hingga persimpangan Desa Tubuhan.
Kerusakan jalan ini sudah berlangsung lama dan semakin parah tergerus cuaca ekstrem serta tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas. Masyarakat Kenohan mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang berlubang, becek dan licin saat hujan, telah menyebabkan sejumlah insiden kecelakaan.
“Kami sangat berharap pemerintah, baik itu Pemkab Kukar maupun Pemprov Kalimantan Timur, segera turun ke lapangan untuk melakukan perbaikan. Kasihan kami masyarakat pedalaman ini, terus-terusan harus menikmati jalan rusak selama bertahun-tahun,” ujar Wardi, seorang warga Kembang Janggut.
Memang tak dapat dipungkiri, masyarakat harus sabar menghadapi kondisi buruk terkait kondisi badan jalan di jalur poros Belayan tersebut. Kondisi semakin parah manakala lokasi jalan itu diguyur hujan, seketika menjadi kubangan lumpur. Sementara pada musim panas, kondisi jalan sangat berdebu. Tentu saja masyarakat berkendara sepeda motor yang paling sengsara, harus “makan” debu.
“Sudah banyak pula warga mengalami kecelakaan di sepanjang jalan rusak ini. Tidak sedikit truk angkutan sembako yang terguling, manakala kondisi jalan licin dan berlumpur saat banjir atau setelah diguyur hujan,” tambah Wardi.
Ya, situasi semakin rumit ketika musim penghujan tiba. Banjir akibat luapan Sungai Belayan kerap merendam ruas jalanan sepanjang puluhan Kilometer tersebut. Bahkan pada sejumlah titik, genangan air memutus akses transportasi darat dan memaksa warga menggunakan perahu untuk melintas di lokasi tersebut. Pada Januari 2026 lalu, banjir bahkan merendam 18 desa di Kecamatan Tabang dan sekitarnya.
Pemkab Kukar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) mengakui bahwa jalan poros ini menjadi prioritas. Menurut Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, bahwa perbaikan jalan poros Kota Bangun-Kenohan itu dijadwalkan pada 2026.
“Setiap tahun kami menganggarkan perbaikan jalan ini, tapi terkendala keterbatasan anggaran. Karena Kukar ini wilayahnya sangat luas, anggaran harus dibagi untuk beberapa kecamatan. Namun, jalan ini menjadi prioritas karena menghubungkan tiga kecamatan,” kata Linda sembari merincikan alokasi anggaran sebesar Rp50 miliar untuk perbaikan jalan tersebut, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp30 miliar dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp20 miliar.
Terkait kondisi itu, anggota DPRD Kalimantan Timur, Firnadi Ikhsan, menegaskan kondisi geografis di wilayah hulu yang berada di sekitar sungai dan tanah basah memerlukan pendekatan konstruksi yang berbeda.
“Sebagian besar wilayah hulu Kukar berada di sekitar sungai dan tanah basah. Jalan yang dibangun dengan timbunan tanah biasa cepat rusak, apalagi saat musim air pasang dari Sungai Belayan. Makanya pembangunan jalan di lokasi itu semestinya menggunakan metode konstruksi berupa pile slab (pondasi beton bertulang) atau jalan layang. Itu dipastikan punya daya tahan baik jalan dalam kondisi alam ekstrem,” jelas Firnadi.
Menurutnya, meskipun anggaran untuk metode konstruksi ini tergolong besar, namun biaya tersebut jauh lebih efisien dalam jangka panjang dibandingkan dengan biaya perbaikan rutin setiap tahun. Firnadi juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat mengingat keterbatasan APBD Kukar. (and)




