sekitarkaltim.com – Chelsea kembali menjadi sorotan setelah keputusan mengejutkan dari pemilik klub Todd Boehly yang resmi memecat Liam Rosenior dari kursi pelatih kepala. Keputusan ini semakin menegaskan reputasi Boehly sebagai sosok yang dinilai lebih keras dibandingkan mantan pemilik klub Roman Abramovich dalam urusan pergantian manajer.
Liam Rosenior resmi diberhentikan pada Kamis, 23 April 2026, setelah hanya 107 hari memimpin The Blues. Masa jabatan singkat itu menjadikannya salah satu pelatih dengan durasi tersingkat dalam sejarah kepelatihan Chelsea, hanya lebih lama dari Thomas Tuchel yang bertahan selama 101 hari pada awal era kepemilikan Boehly.
Rosenior sebenarnya baru ditunjuk pada Januari 2026 sebagai pengganti Enzo Maresca. Saat itu, Chelsea memberikan kontrak jangka panjang selama enam musim hingga Juni 2032, sebuah sinyal kuat bahwa manajemen ingin membangun proyek jangka panjang. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.
Lima kekalahan beruntun di Premier League menjadi alasan utama pemecatan tersebut. Puncaknya terjadi saat Chelsea dipermalukan Brighton & Hove Albion dengan skor telak 0-3 pada laga tandang pertengahan pekan. Hasil itu memperburuk posisi klub sekaligus memunculkan tekanan besar dari internal maupun eksternal.
Mantan pemain Manchester United yang kini menjadi pandit Sky Sports, Gary Neville, menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa pemilik klub tidak memahami proses yang sedang dibangun. Ia menyoroti bahwa jika Chelsea benar-benar menginginkan stabilitas, seharusnya mereka memilih sosok yang dipercaya untuk bertahan dalam jangka panjang, bukan terus mengganti pelatih dalam waktu singkat.
Laporan dari BBC juga mengungkap adanya masalah serius di ruang ganti sebelum kekalahan dari Brighton. Rosenior disebut mulai kehilangan kendali terhadap skuadnya. Dalam pertandingan sebelumnya melawan Manchester United yang berakhir dengan kekalahan 0-1, bek Wesley Fofana dikabarkan mengabaikan instruksi dari asisten pelatih James Walker.
Situasi semakin rumit karena muncul indikasi adanya kelompok pemain yang tidak lagi mendukung sang pelatih. Enzo Fernandez dan Marc Cucurella disebut menjadi figur yang memengaruhi sejumlah pemain berbahasa Spanyol di ruang ganti untuk menentang Rosenior.
Sebagai langkah darurat, Chelsea menunjuk pelatih tim U-19 dan U-21, Calum McFarlane, sebagai pelatih interim hingga akhir musim. McFarlane sebelumnya juga sempat mengisi kekosongan saat transisi dari Maresca menuju Rosenior.
Jika dibandingkan dengan era Roman Abramovich, statistik ini menjadi perhatian besar. Dalam empat musim awal kepemilikannya, Abramovich hanya memecat dua pelatih, yakni Claudio Ranieri dan Jose Mourinho. Sementara Todd Boehly sudah melengserkan lima pelatih sejak mengambil alih klub pada 2022.
Chelsea juga tercatat sebagai salah satu klub Premier League dengan pengeluaran terbesar untuk kompensasi pemecatan pelatih sejak era kompetisi modern dimulai pada musim 1992-1993. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergantian pelatih yang terlalu cepat bukan hanya mengganggu stabilitas tim, tetapi juga menjadi beban finansial yang besar.
Kini, pertanyaan besar muncul mengenai arah proyek Chelsea di bawah Todd Boehly. Dengan pergantian pelatih yang terus berulang, stabilitas yang diharapkan justru semakin sulit tercapai.
