sekitarkaltim.com – Badan Gizi Nasional (BGN) meminta guru ikut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama siswa di sekolah. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan sekaligus menjadikan kegiatan makan sebagai bagian dari proses edukasi di lingkungan sekolah.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa keterlibatan guru dalam kegiatan makan bersama tidak sekadar sebagai pendamping siswa. Guru juga diharapkan dapat memberikan contoh mengenai adab makan, kedisiplinan saat mengantre, serta pentingnya menjaga kebersihan selama kegiatan MBG berlangsung.
Menurut Sudaryono, ruang kelas dapat dimanfaatkan lebih luas sebagai tempat pembelajaran, termasuk untuk membangun kebiasaan positif yang berkaitan dengan pola makan dan kebersihan. Karena itu, guru diminta ikut makan bersama siswa agar proses edukasi tersebut dapat berjalan secara langsung dalam keseharian.
Keterlibatan guru juga berkaitan dengan aspek pengawasan keamanan makanan MBG. Guru diharapkan menjadi pihak terakhir yang melakukan pemeriksaan secara organoleptik sebelum makanan dikonsumsi siswa. Apabila makanan dinilai memiliki kondisi yang tidak layak, makanan tersebut tidak boleh dibagikan kepada siswa.
BGN juga akan menerapkan ketentuan mengenai batas waktu konsumsi makanan MBG. Mulai pekan depan, setiap ompreng atau wadah makanan MBG akan dilengkapi label yang mencantumkan batas waktu makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.
Aturan tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan terhadap potensi keracunan makanan. Makanan yang telah melewati batas waktu konsumsi tidak diperbolehkan untuk dimakan, sehingga guru dan pihak sekolah perlu memastikan ketentuan tersebut dipatuhi selama pelaksanaan program MBG.
Selain persoalan waktu konsumsi, BGN turut mengingatkan mengenai kebiasaan siswa yang menyisihkan lauk seperti telur atau ayam untuk dibawa pulang. Kebiasaan tersebut dapat muncul karena siswa ingin berbagi makanan dengan keluarga di rumah. Namun, makanan MBG tetap tidak diperbolehkan dibawa pulang karena terdapat risiko penurunan kualitas makanan setelah berada di luar kondisi penyimpanan yang sesuai.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena makanan yang sudah mengalami penurunan kualitas dapat membahayakan kesehatan. Oleh sebab itu, siswa perlu mendapatkan pemahaman bahwa makanan yang disediakan melalui program MBG harus dikonsumsi sesuai ketentuan keamanan pangan yang telah ditetapkan.
Guru juga diminta menyampaikan edukasi kepada orang tua mengenai risiko mengonsumsi makanan MBG yang telah melewati batas waktu. Dengan demikian, pemahaman mengenai keamanan pangan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat diterapkan ketika siswa berada di rumah.
Kebijakan BGN ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Makan Bergizi Gratis di sekolah tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi bagi siswa. Program tersebut juga diarahkan menjadi sarana pembentukan kebiasaan hidup sehat, kedisiplinan, kebersihan, serta pemahaman mengenai keamanan pangan sejak usia sekolah.
Dengan keterlibatan guru secara langsung, sekolah diharapkan mampu memastikan makanan dikonsumsi dengan cara yang aman sekaligus menjadikan kegiatan makan bersama sebagai bagian dari pendidikan karakter. Pengawasan terhadap waktu konsumsi, larangan membawa pulang makanan, serta edukasi kepada siswa dan orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga pelaksanaan MBG tetap aman bagi penerima manfaat.




