Beranda NASIONAL Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Biru Voice Soroti Darurat Sampah Jakarta

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Biru Voice Soroti Darurat Sampah Jakarta

0

sekitarkaltim.com – Persoalan sampah yang terus meningkat di Jakarta kembali menjadi sorotan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Biru Voice menilai kondisi pengelolaan sampah di Ibu Kota sudah berada pada level yang mengkhawatirkan dan membutuhkan langkah penanganan yang lebih cepat, terintegrasi, serta melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Ketua Biru Voice, Suryo Susilo, mengungkapkan bahwa Jakarta saat ini menghadapi tantangan besar akibat tingginya produksi sampah harian yang mencapai lebih dari 9.000 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.500 ton masih bergantung pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sebagai lokasi pembuangan akhir. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dianggap sebagai isu biasa, melainkan telah menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama.

Biru Voice menilai penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum dinilai memiliki peran penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Organisasi tersebut menekankan perlunya koordinasi yang kuat dari hulu hingga hilir agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan optimal.

Ketergantungan yang besar terhadap TPST Bantargebang juga dianggap sebagai titik rawan dalam sistem pengelolaan sampah Jakarta. Setelah puluhan tahun menampung limbah dari jutaan penduduk, kapasitas kawasan tersebut disebut semakin mendekati batas kritis. Berbagai laporan bahkan menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan sekitar, termasuk potensi longsor akibat penumpukan sampah yang terus bertambah setiap tahun.

Menurut Biru Voice, persoalan sampah tidak semata berkaitan dengan aspek teknis pengangkutan dan pembuangan. Masalah ini juga mencerminkan pola konsumsi masyarakat, budaya hidup, efektivitas tata kelola pemerintahan, serta tingkat kolaborasi antar pemangku kepentingan. Jika tidak ditangani dengan pendekatan yang lebih progresif, Jakarta berisiko menghadapi dampak yang lebih luas, mulai dari persoalan kesehatan masyarakat hingga ancaman terhadap kualitas lingkungan perkotaan.

Organisasi tersebut mencontohkan sejumlah kota maju di dunia seperti Tokyo, Singapura, Seoul, dan Kopenhagen yang berhasil mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir melalui penerapan sistem pemilahan sampah, ekonomi sirkular, pemanfaatan teknologi modern, dan partisipasi aktif masyarakat. Model serupa dinilai dapat menjadi referensi bagi Jakarta dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Biru Voice mendorong percepatan pembangunan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy. Teknologi tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi terbarukan. Untuk mewujudkan proyek tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan investor swasta, termasuk dari luar negeri.

Selain itu, Biru Voice juga mengusulkan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui dukungan terhadap bank sampah. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penyediaan mesin pencacah plastik bagi bank sampah yang dikelola warga. Dengan fasilitas tersebut, nilai ekonomi sampah dapat meningkat sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam proses daur ulang.

Konsep ekonomi sirkular juga menjadi salah satu fokus yang didorong organisasi tersebut. Pemerintah daerah dinilai perlu melibatkan sektor swasta dalam pengembangan fasilitas daur ulang, penyediaan armada pengangkut sampah, hingga dukungan infrastruktur lainnya. Di sisi lain, perhatian terhadap para pengepul dan pemulung juga dianggap penting karena kelompok ini selama ini memiliki peran besar dalam memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Meski tantangan pengelolaan sampah Jakarta masih cukup besar, Biru Voice optimistis kondisi tersebut dapat diperbaiki apabila seluruh pihak bergerak bersama. Dengan percepatan program pengelolaan sampah yang terencana dan dukungan masyarakat yang kuat, Jakarta diharapkan mampu menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali dalam beberapa tahun ke depan.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version