sekitarkaltim.com – Upaya pelestarian lingkungan di kawasan pesisir terus diperkuat oleh berbagai pihak, salah satunya melalui penanaman mangrove yang dinilai efektif dalam menahan abrasi. Di Bali, langkah ini semakin digencarkan sebagai respons atas meningkatnya ancaman pengikisan garis pantai yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Kegiatan penanaman mangrove yang berlangsung di kawasan Mangrove Arboretum Park, Denpasar, menjadi salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan sharing session terkait pelaksanaan urusan pemerintahan umum di daerah yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata melalui penanaman bibit mangrove secara langsung di lapangan.
Pemerintah Provinsi Bali menyambut baik inisiatif tersebut. Gubernur Bali, Wayan Koster, menilai gerakan penanaman mangrove sejalan dengan komitmen daerah dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di wilayah pesisir yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap abrasi. Ia menekankan bahwa pengikisan daratan di sejumlah titik pesisir Bali telah memberikan dampak signifikan, tidak hanya terhadap luas wilayah, tetapi juga terhadap lahan produktif yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Dalam pandangannya, penanaman mangrove merupakan salah satu solusi alami yang efektif untuk melindungi garis pantai. Vegetasi mangrove mampu meredam energi gelombang laut, sehingga dapat mengurangi laju abrasi sekaligus memperkuat struktur tanah di kawasan pesisir. Oleh karena itu, upaya ini dinilai penting untuk terus diperluas dan dilakukan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum juga mendorong agar program penanaman mangrove tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi turut memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pendekatan ini dianggap penting untuk memastikan keberlanjutan program, karena keterlibatan aktif masyarakat akan semakin kuat jika mereka merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.
Kegiatan penanaman mangrove ini melibatkan sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari perwakilan Kesatuan Bangsa dan Politik di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota se-Bali, organisasi kemasyarakatan, hingga kalangan pelajar. Penanaman dilakukan secara simbolis setelah penyerahan bibit kepada perwakilan peserta, sebelum kemudian dilanjutkan di area yang telah disiapkan.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah memiliki sejumlah regulasi yang mendukung pelestarian lingkungan. Namun demikian, implementasi di lapangan terus diperkuat melalui berbagai kegiatan berkelanjutan, seperti penanaman pohon serta aksi bersih lingkungan di sungai, laut, dan danau. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di tengah tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir. Dengan sinergi yang terus diperkuat, upaya perlindungan terhadap wilayah pesisir Bali diharapkan dapat berjalan optimal, sekaligus memastikan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
