sekitarkaltim.com – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kini semakin diperkuat melalui pendekatan preventif berbasis teknologi, salah satunya lewat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah pusat tidak lagi hanya fokus pada pemadaman saat kebakaran terjadi, tetapi juga melakukan intervensi sejak dini guna menjaga kondisi lahan tetap lembap, terutama di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar.
Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pelaksanaan OMC tahap kedua mulai digelar sejak 28 Maret 2026. Program ini diarahkan untuk meningkatkan curah hujan buatan dengan metode penyemaian awan menggunakan bahan tertentu agar hujan dapat turun di wilayah rawan kebakaran. Hingga awal April, total bahan semai berupa garam yang telah digunakan mencapai sekitar 11 ton, menunjukkan intensitas operasi yang cukup besar.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan menjaga kelembapan lahan agar tidak mudah terbakar. Ia menekankan bahwa pemicu utama karhutla di wilayah tersebut adalah kondisi gambut yang mengering saat musim kemarau, sehingga upaya menjaga kadar air di dalam tanah menjadi sangat krusial untuk mencegah munculnya titik api.
Secara karakteristik, lahan gambut memang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran. Saat kering, material organik di dalamnya sangat mudah terbakar dan api dapat merambat di bawah permukaan tanah tanpa terdeteksi, sehingga menyulitkan proses pemadaman. Kondisi inilah yang membuat strategi berbasis cuaca seperti OMC menjadi solusi penting dalam pengendalian risiko kebakaran.
Keberhasilan pelaksanaan OMC pada periode sebelumnya, yakni Februari 2026, menjadi salah satu pertimbangan utama dilanjutkannya program ini. Pemerintah menilai metode tersebut cukup efektif dalam menekan potensi kebakaran di sejumlah titik rawan. Pada tahap kedua ini, operasi difokuskan di wilayah pesisir timur Riau, meliputi Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, hingga Kota Dumai yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi.
Selain intervensi cuaca, kesiapsiagaan juga diperkuat melalui dukungan sarana pemadaman udara. Saat ini, satu unit helikopter telah disiagakan untuk melakukan water bombing sebagai langkah respons cepat apabila kebakaran tetap terjadi. Pemerintah daerah bahkan masih mengusulkan penambahan armada udara guna meningkatkan efektivitas penanganan di lapangan.
Kombinasi antara upaya preventif melalui OMC dan kesiapan pemadaman dari udara mencerminkan perubahan pendekatan dalam penanganan karhutla di Indonesia. Strategi ini tidak lagi bersifat reaktif semata, melainkan mengedepankan pencegahan sejak awal. Dengan menjaga kelembapan lahan sebelum memasuki puncak musim kemarau, diharapkan potensi munculnya titik api dapat ditekan secara signifikan serta mencegah kebakaran meluas yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.
