
Sekitarkaltim.com – Seorang murid Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), nekat mengakhiri hidupnya. Malang menimpa YBS (10) yang duduk di kelas 6 SD Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada tersebut, diduga akibat tekanan ekonomi menghimpit keluarganya. Sehingga terjadi keterbatasan akses terhadap pendidikan.
Dengan kondisi memprihatinkan itu, maka tidak dapat dipungkiri bahwa kemiskinan masih banyak melanda masyarakat Indonesia. Terkait hal itu Bupati Ngada, Raymundus Bena menyatakan akan meninjau ulang program-program penanggulangan kemiskinan dan beasiswa pendidikan di wilayahnya.
“Pemerintah daerah akan mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah terulangnya hal serupa. Memang kami juga sudah ada program bantuan pendidikan untuk anak dari masyarakat kurang mampu,” kata Raymundus.
Kejadian ini menuai duka dan sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk organisasi pekerja yang menyatakan perhatian serius. Meskipun identitas dan detail kronologi medis dari almarhum anak tersebut masih dalam pendalaman pihak berwajib dan dinas terkait, sumber-sumber lokal dan pegiat pendidikan menyatakan bahwa kondisi keluarga sangat kekurangan, diduga menjadi akar permasalahan.
Kesulitan ekonomi diyakini telah menyebabkan anak tersebut tidak dapat mengakses kebutuhan dasar pendukung pendidikan, serta berpotensi memengaruhi kondisi kesehatannya.
“Ini adalah cerminan kondisi riil masih dihadapi oleh sebagian anak-anak Indonesia, khususnya di daerah tertinggal. Mereka menghadapi hambatan ekstrem dalam memperoleh hak-hak dasarnya sebagai warga negara, yaitu hak atas pendidikan layak dan hidup bermartabat,” tegas pernyataan resmi dari sebuah organisasi pekerja yang peduli terhadap isu ketenagakerjaan dan kesejahteraan rakyat.
Dinyatakan pula bahwa tragedi ini bukan sekadar peristiwa individual, melainkan indikator dari kegagalan sistemik dalam perlindungan sosial. Mereka mendesak pemerintah daerah maupun pusat untuk segera melakukan intervensi menyeluruh, mulai dari pendataan ulang keluarga miskin ekstrem, penguatan program bantuan sosial yang tepat sasaran, hingga memastikan infrastruktur dan akses pendidikan benar-benar terjangkau semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Tidak boleh ada lagi anak Indonesia yang terkubur harapannya, apalagi nyawanya, karena kemiskinan yang menghalangi mereka untuk bersekolah dan bertahan hidup,” tegas dalam pernyataan organisasi tersebut.
Saat dikonfirmasi wartawan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watunggadha, menyatakan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dan Dinas Sosial untuk mendalami penyebab pasti kematian.
“Kami turut berduka cita yang mendalam. Tim kami turun ke lokasi untuk mengumpulkan data dan memberikan pendampingan psikososial kepada keluarga dan teman-teman sekolah almarhum. Apapun akar masalahnya, ini menjadi peringatan keras bagi kita semua,” ujarnya.
Tragedi ini menyentak publik dan mengingatkan kembali akan kesenjangan yang masih lebar di bidang pendidikan dan kesejahteraan. Masyarakatarkat setempat berharap agar kematian siswa SD ini tidak sia-sia, tetapi menjadi momentum bagi perbaikan yang nyata, agar setiap anak di Ngada, dan di seluruh Indonesia, dapat tumbuh dan belajar dengan layak, terlepas dari kondisi ekonomi keluarganya. (and)