Beranda DAERAH Tradisi Naga Erau 2026 Mulai Dipersiapkan, Puluhan Pengrajin Terlibat

Tradisi Naga Erau 2026 Mulai Dipersiapkan, Puluhan Pengrajin Terlibat

0

sekitarkaltim.com – Persiapan Festival Erau Adat Kutai 2026 mulai memasuki tahapan penting. Sepasang replika naga yang menjadi bagian dari tradisi pelarungan naga kini kembali disempurnakan di kawasan Museum Mulawarman, Tenggarong, menjelang pelaksanaan Erau pada 20–27 September 2026.

Penyempurnaan replika naga tersebut menjadi salah satu rangkaian yang tidak terpisahkan dari tradisi Erau Adat Kutai. Kepala Kantor Staf Kesultanan Kutai Kartanegara, Pangeran Noto Negoro, menjelaskan bahwa pembuatan naga memiliki kaitan historis dengan tradisi yang berkembang di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.

Saat ini, sepasang replika naga berada di sisi kanan dan kiri Museum Mulawarman. Selain menjadi bagian dari ornamen kawasan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, keberadaan keduanya juga memiliki keterkaitan dengan rangkaian adat Erau yang terus diwariskan dan dilestarikan.

Dalam perkembangannya, lokasi pembuatan dan perakitan replika naga mengalami perpindahan. Jika sebelumnya pengerjaan dilakukan di Desa Kutai Lama dan Jembayan, kini proses tersebut dilaksanakan di Tenggarong. Setelah seluruh penyempurnaan rampung, sepasang naga akan dibawa dari kawasan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara menuju Desa Kutai Lama. Rombongan juga direncanakan singgah di Samarinda Sebrang untuk beristirahat di kampung warga sebelum melanjutkan perjalanan.

Pemasangan kepala dan ekor menjadi penanda penting dalam tahapan penyempurnaan naga. Setelah kedua bagian tersebut terpasang, perlengkapan adat dan sesajen mulai disiapkan untuk melengkapi prosesi yang menyertai proses pembuatan naga.

Sejumlah perlengkapan yang digunakan antara lain beras, kelapa tua, pinang, pisang, lilin, jarum dan benang, rokok daun, tembakau, gula merah, telur ayam kampung, kapur, daun sirih, serta dupa. Khusus dupa yang telah dinyalakan setelah pemasangan kepala dan ekor, para pengrajin menjaganya agar tetap menyala selama proses yang telah ditentukan dalam rangkaian adat.

Bagi para pengrajin, berbagai perlengkapan tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari tata cara yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, setiap tahapan pengerjaan dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan adat yang berlaku.

Setelah kepala dan ekor terpasang, pengerjaan masih berlanjut pada sejumlah bagian lain, termasuk penyempurnaan tubuh dan pemasangan sirip di bagian belakang naga. Ukuran serta bentuk setiap bagian harus mengikuti ketentuan yang telah menjadi bagian dari tradisi pembuatan naga Erau.

Satu replika naga membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 20 hari, mulai dari pembuatan kerangka hingga menjadi bentuk yang siap digunakan dalam rangkaian prosesi Erau. Pengerjaannya melibatkan sekitar 10 hingga 15 pengrajin dengan pembagian tugas, mulai dari membuat kerangka, mengerjakan tubuh dan bagian sisi, memasang sisik, hingga membuat serta memasang sirip.

Keahlian para pengrajin juga diperoleh melalui proses pewarisan. Mereka harus memahami karakteristik, ukuran, bentuk, serta perbedaan antara naga laki-laki dan naga perempuan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa proses pembuatan naga tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Salah satu pengrajin, Ismail, telah menekuni pembuatan replika naga selama sekitar 16 tahun sejak 2010. Keahlian tersebut diwarisinya dari orang tua yang sebelumnya juga menggeluti pekerjaan serupa.

Sepasang replika naga yang dikerjakan memiliki panjang sekitar 16 meter. Dari segi tinggi, naga perempuan dibuat sekitar 75 sentimeter, sedangkan naga laki-laki sekitar 70 sentimeter. Perbedaan ukuran tersebut menjadi bagian dari karakteristik masing-masing replika naga.

Tahapan pengerjaan dilakukan secara bertahap. Salah satu proses awal adalah pemasangan penjalin pada kerangka yang dapat diselesaikan sekitar satu hari. Setelah itu, pengrajin memasang sisik yang membutuhkan waktu kurang lebih empat hari.

Sisik naga dibuat menggunakan kain yang dipotong sesuai ukuran, kemudian ditempel satu per satu menggunakan lem. Beragam warna kain digunakan untuk memberikan tampilan khas pada replika naga. Dalam proses tersebut, sekitar 14 warna digunakan untuk memperkaya tampilan.

Ketelitian menjadi hal penting ketika kain dipotong menjadi bagian-bagian sisik. Untuk menjaga keseragaman ukuran dan bentuk, pengrajin perempuan turut dilibatkan dalam proses pemotongan kain.

Dengan dimulainya pemasangan kepala dan ekor, penyempurnaan sepasang replika naga kini terus dikebut untuk menyambut Erau Adat Kutai 2026. Festival yang mengusung tema “Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September 2026.

Erau Adat Kutai 2026 juga telah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), sehingga pelaksanaannya diharapkan semakin memperkuat posisi festival tersebut sebagai salah satu agenda budaya dan pariwisata. Selain menjaga keberlangsungan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara, Erau menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kutai Kartanegara kepada masyarakat Indonesia hingga wisatawan mancanegara.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version