sekitarkaltim.com – Presiden FIFA Gianni Infantino resmi membatalkan rencana penjualan sebagian saham bisnis Piala Dunia setelah proposal tersebut memicu penolakan luas dari berbagai pihak, mulai dari pejabat internal FIFA hingga sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Keputusan itu diambil hanya beberapa hari setelah wacana tersebut diumumkan dan menuai kritik yang terus menguat.
Sebelumnya, Infantino mengusulkan pembentukan sebuah perusahaan baru yang diperkirakan bernilai sekitar 20 miliar dolar AS untuk mengelola aset komersial berbagai turnamen FIFA. Dalam skema tersebut, sebagian kepemilikan perusahaan akan dilepas kepada pihak luar sebagai bagian dari pengembangan bisnis dan optimalisasi nilai komersial kompetisi.
Namun, gagasan itu langsung mendapat respons negatif. Banyak kalangan menilai Piala Dunia merupakan aset sepak bola dunia yang tidak seharusnya diperlakukan sebagai komoditas bisnis. Sejumlah pihak juga khawatir langkah tersebut dapat menggeser orientasi penyelenggaraan turnamen dari kepentingan olahraga menuju kepentingan komersial.
Mengutip ESPN, Gianni Infantino menyampaikan bahwa setelah mendengarkan berbagai masukan dari para pemangku kepentingan, FIFA memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek tersebut. Menurutnya, usulan itu telah memunculkan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan awal pembentukannya.
Infantino menegaskan fokus FIFA kini adalah membangun kembali persatuan di lingkungan sepak bola internasional. Dalam beberapa hari dan pekan ke depan, FIFA akan berupaya merangkul seluruh konfederasi, asosiasi anggota, serta pemangku kepentingan agar dapat kembali bekerja sama demi pengembangan sepak bola di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara yang membutuhkan dukungan lebih besar.
Tekanan terhadap Presiden FIFA semakin menguat setelah dua pejabat senior organisasi tersebut secara terbuka menyampaikan penolakan. Carlos Cordeiro memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai penasihat Presiden FIFA sekaligus perwakilan FIFA di Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia karena tidak sejalan dengan arah kebijakan tersebut.
Kritik juga datang dari Kepala Operasional FIFA Kevin Lamour yang menilai proposal itu minim transparansi dan terlalu berpusat pada satu pihak. Ia bahkan mendorong para pemimpin sepak bola dunia untuk mengevaluasi arah kepemimpinan FIFA setelah munculnya rencana tersebut.
Penolakan paling keras datang dari UEFA. Seluruh 55 asosiasi anggota konfederasi sepak bola Eropa menyatakan keberatan dan mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, apabila rencana tersebut tetap dijalankan. UEFA berpandangan bahwa Piala Dunia merupakan warisan sepak bola global yang tidak layak dijadikan objek kepentingan bisnis.
Sikap serupa kemudian disampaikan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Kedua konfederasi tersebut juga menyatakan keberatan terhadap proposal FIFA sehingga memperlihatkan semakin besarnya penolakan dari komunitas sepak bola internasional.
Dalam rancangan awalnya, FIFA berencana memisahkan pengelolaan komersial sejumlah turnamen, termasuk Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, dan Piala Dunia Antarklub, ke dalam sebuah anak perusahaan baru. Rencana inilah yang kemudian memicu perdebatan karena dianggap berpotensi mengubah arah pengelolaan turnamen paling bergengsi di dunia.
Pembatalan proposal tersebut dinilai menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan Gianni Infantino. Selama ini posisinya relatif kuat setelah terpilih tanpa lawan pada pemilihan Presiden FIFA tahun 2019 dan kembali memperoleh mandat pada 2023. Namun, munculnya kritik dari pejabat internal FIFA serta penolakan terbuka dari berbagai konfederasi menunjukkan adanya dinamika baru dalam tubuh organisasi sepak bola dunia.
Meski demikian, Infantino masih memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri kembali sesuai ketentuan statuta FIFA. Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang di Rabat, Maroko, sementara batas akhir pencalonan akan ditutup pada 18 November.




